Jeritan Petani ‘Rica’ di Kayumoyondi Soal Harga dan Serangan Hama

0
Contoh Buah cabe yang diserang hama di kebun milik Saprudin Patamat, warga Kayumoyondi

TimurExpress.com, Boltim – Di masa Pandemi saat ini, berbagai upaya dilakukan masyarakat untuk menyeimbangkan perekonomian dalam rumah tangga. Upaya-upaya yang dilakukan diantaranya bercocok tanam.

Namun, sebagai petani yang menanam cabe atau biasa disebut ‘’rica’’ oleh masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut), terpaksa harus menelan pahitnya kenyataan. Alih-alih bisa meraup keuntungan, malah merugi sebelum memasuki masa panen.

Hal itu disebabkan rusaknya buah cabe yang mendekati masa panen. Demikian disampaikan Saprudin Patamat, petani cabe asal Desa Kayumoyondi, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Daun cabe yang menjadi kriting akibat serangan hama di kebun Saprudin Patamat

‘’Saya merugi karena sebagian buah rica rusak di hajar hama. Saya berharap ada penyuluhan dari instansi terkait bagaimana cara membarantas hama ini,’’ ungkapnya beberapa waktu lalu.

Patamat melanjutkan, selain kendala serangan hama, dirinya merasakan kerugian lainnya akibat anjloknya harga cabe.

‘’Dengan bertani tentunya akan menjadi pendapatan bagi keluarga kami untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Namun lagi-lagi saya merasa rugi, sebab pengambilan dari tengkulak hanya berkisar 20.000-25.000 per kilo gram. Itu tidak menutupi biaya penanaman, perawatan hingga proses panen. Saya berharap banyak pada pemerintah tentang kondisi ini,’’ keluhnya, menambahkan dirinya ingin meminjam Alsintan seperti traktor dan kultivator untuk meminimalisir biaya pengolahan lahan pertanian.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Boltim, Mat Sunardi saat dihubungi via WhatsApp, Rabu (12/8/20) mengatakan, terkait hama, itu akan menjadi perhatian Dispertanak.

‘’Untuk hama penyakit, ada petugas khusus namanya PHP/OPT. Mereka dibawah kendali Dispertanak Sulut. Namun koordinasi dengan Dispertanak Boltim selama ini baik. Ini menjadi perhatian kami sebagai bahan evaluasi,’’ ujar Sunardi.

Tentang Alsintan, lanjut Sunardi, peminjam dapat mengajukan surat resmi ke Dispertanak Boltim untuk pelaksanaannya karena ada SOP yang harus dipenuhi dan BA yang ditandatangani.

Namun demikian, lebih lanjut kata dia, setiap kecamatan di Boltim ada UPJA dan Alsintan yang dikelola kelompok tani tapi masih perlu bimbingan management.

‘’Ini lagi kami lakukan iventarisir dan pendataan kembali untuk memastikan keberadaaannya dan kondisi alat-alatnya,’’ terangnya.

Kemudian tambah Sunardi, terkait harga cabe sangat dipengaruhi oleh pasar dan azas supply and demand. Pemerintah baru mengintervensi pada komoditi tertentu utamanya pangan (beras-red). Sehingga itu untuk komoditi lainnya belum masuk pada perlindungan harga pemerintah

‘’Solusi yang perlu diantisipasi adalah menghindari tanam serentak pada tanaman cabe melainkan ada jeda waktu agar produksi tidak melimpah namun permintaan tetap, sehingga tidak over produksi di pasaran. Hal ini akan menjadi bahan masukan kami untuk merancang strategi kedepan,’’ pungkasnya. (Chimo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here