Ucapan Positif yang Mengandung Sisi Gelap

0

 

‘’Sudahlah, tidak perlu dipikirkan.

Masalahmu tidak ada apa-apanya dibanding masalah orang Iain di luar sana.’’

‘’Kamu hanya kurang dekat dengan Tuhan.’’

“Sabar aja ya, biar Tuhan yang balas’’

“Ayo, jangan menyerah !’’

‘’Kamu pasti bisa !”

“Baru juga begitu, aku udah ngalamin yang lebih buruk. Ayo dong! Semangat’’

Pernahkah kamu mendengar ucapan-ucapan di atas? Mungkin kita seringkali mendengar ucapan-ucapan tersebut dari orang lain. Atau, bisa jadi kita salah satunya yang sering melontarkan ucapan-ucapan tersebut. Seringkali, ketika teman atau orang terdekat menceritakan masalahnya, kita selalu berusaha memberikan aura positif dan memaksanya untuk tetap positif dengan melontarkan kalimat-kalimat penyemangat.

Hmm…. Tapi, apakah semua orang bisa terima dengan kalimat-kalimat tersebut? Nyatanya tidak. Ucapan-ucapan seperti ini termasuk toxic positivity. Kebanyakan orang bahkan tidak merasa Iebih baik setelah mendengar ucapan-ucapan seperti itu. Meski ucapannya baik, tapi hal itu akan menjadi sangat beracun jika disampaikan pada saat yang tidak tepat.

So, mulai sekarang, stop deh dengan toxic positivity. Eh, tapi sebenarnya apa sih, toxic positivity itu? Lalu, bagaimana sih seharusnya agar kita terhindar dari toxic positivity?

Kamu harus kenali toxic positivity itu

Kalau kata Jennifer Howard, Ph.d, seorang psikoterapis asal Amerika, nasihat yang bertujuan untuk mengajak seseorang berpikir positif justru akan membuat seseorang takut,

sedih, sakit, dan merasa sendiri. Beliau juga bilang, kalau usaha untuk mengajak seseorang berpikir positif sehingga tidak realistis justru akan menjadi beracun dan palsu. lnilah yang disebut toxic positivity.

Toxic positivity, itu istilah populer. Hal ini, adalah fenomena di masyarakat kita yang memaksa orang lain untuk selalu bahagia. Padahal, setiap orang itu bisa mengekspresikan emosinya. Entah itu sedih, senang, kesal. marah, dan sebagainya. Memberikan semangat dengan kata-kata positif kepada orang yang sedang mengalami masalah, dengan tujuan untuk menghibur dan menyemangati. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya kata-kata positif tersebut berubah menjadi racun yang membuat orang yang kita semangati menjadi down.

Kita mungkin seringkali tidak menyadari bahwa, tidak semua ucapan positif bisa berdampak baik bagi psikologis seseorang. Hal ini bisa jadi karena apa yang diucapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi. Seperti contohnya, seseorang sedang mengalami masalah putus cinta dan mendapati bahwa dirinya kecewa. Namun, kebanyakan orang akan memberi sugesti untuk tidak perlu kecewa dan kamu hanya perlu bersyukur. Padahal, rasa kecewa yang dialami, sebenarnya adalah bentuk emosi jiwa yang sangat wajar dalam keadaan itu.

 

Berbahaya bagi kesehatan psikis !

 

Dilansir dari tirto.id, kaIimat-kalimat positif yang disampaikan, dapat memicu gangguan psikis bagi sebagian orang. Hal itu seolah, membuat mereka menjadi merasa kecil, karena dianggap tidak mampu menanamkan syukur pada diri mereka.

Menurut dr. Jiemi Ardian, seorang residen psikiatri di R.S. Muwardi Solo, menyampaikan lewat tulisan di instagramnya. la menulis, “Tidak semua orang butuh disemangati saat mereka bercerita soal perasaan negatif atau pengalaman buruknya”, papar Jiemi.

“Seringkali, yang disekeliling mereka mengatakan hal-hal yang seakan-akan positif, padahal bukan itu yang sedang dibutuhkan orang yang bermasalah.”

Selanjutnya, ia mengatakan bahwa setiap emosi punya pesan, baik marah, rasa jijik, sedih, bahagia, atau takut. Apabila emosi-emosi itu disangkal atau dipendam demi terus terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, yang terjadi adalah emosi-emosi negatif itu menumpuk, kemudian bisa memicu stres dan sakit secara psikis atau fisik.

“Emosi yang ditekan terus bisa jadi penyebab atau pemberat gangguan psikis. Yang paling sering terjadi (gangguan psikisnya) ya gangguan kecemasan dan depresi mayor”, imbuh Jiemi.

Nah, seperti apa yang sudah disampaikan dr. Jiemi, kita semestinya tidak menangkal emosi negatif dengan hal-hal yang bertolak belakang dari emosi kita. Namun, budaya kita yang memuja-muja untuk selalu bersikap positif pada setiap keadaan, menjadi suatu bentuk beban tersendiri bagi individu. Tuntutan untuk selalu bersikap positif dalam setiap keadaan, seolah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk meluapkan rasa sedih, marah, kecewa, dan putus asa. Kebanyakan dari kita tidak sadar bahwa, menekan semua emosi negatif tersebut malah menjadikan bumerang bagi diri sendiri. Hal ini hanya akan menjadi sampah batin jika emosi negatif terus dipendam dan berusaha menghasut diri untuk tetap positif.

Jika kita terus membiarkan emosi-emosi negatif terkurung dalam diri, maka ini akan berbahaya bagi kesehatan psikis kita. Karena, akan ada saatnya semua emosi-emosi negatif yang tak terluapkan dari dalam diri meledak pada waktunya. Hal ini bisa mengakibatkan seseorang depresi, stress, atau bahkan pada tingkat yang paling fatal untuk bunuh diri.

Berapa banyak kasus bunuh diri yang kita lihat, karena orang-orang tidak sanggup Iagi memikul beban psikis mereka. Ini karena, mereka selalu menyembunyikan emosi negatif, karena lingkungan kita memaksa kita untuk harus tetap positif, dan menganggap sesuatu yang negatif itu, tidak baik. Padahal, tidak begitu seharusnya. Emosi-emosi negatif itu wajar. Kamu berhak merasakan marah, sedih, dan kecewa. Dan kamu wajar meluapkan emosi-emosi negatif tersebut.

Yuk, pelan-pelan ubah kebiasaan toxic positivity

      Jika bersikap positif bukan cara yang terbaik untuk mengatasi masalah, Ialu apa yang harus kita lakukan atau sampaikan, sikap optimis yang perlu dan sebenar-benarnya pada diri sendiri atau orang lain?

Jennifer Mulder, seorang psikolog, menuliskan beberapa hal yang bisa kita lakukan di situs thehealthsession.com. “Ketika kita

pada posisi menggapai sesuatu dan frustasi karena target belum tercapai, satu hal yang perlu kita sadari adalah, kita jangan menyalahkan diri sendiri akan semua hal yang terjadi, dan tidak sepenuhnya bertanggungjawab akan semua masalah kita. Carilah bantuan, hal itu sangatlah normal”.

Lebih lanjut Iagi, yang pertama jangan mengabaikan sikap negatif yang ada pada diri kita. Sangatlah normal merasa sedih, marah, frustasi dan putus asa. Menghindari emosi negatif dari diri kita, bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Bahkan, seorang positivity expert, Barbara L. Fredrickson, menyampaikan bahwa, “Emosi negatif adalah hal normal yang ada dalam hidup kita. Hal yang terpenting adalah keseimbangan keduanya, antara emosi negatif dan emosi positif. Daripada mencoba menyingkirkan semua emosi negatif kita, lebih baik kita mencari cara untuk menerima keberadaannya dengan cara yang baik, jadi tidak terjebak pada emosi negatif saja.“

Yang kedua, pahami keadaan antara mana yang bisa dan tidak bisa kita ubah. Seringkali ada satu kondisi yang bisa kita selesaikan dengan mengatur sendiri keadaan kita. Mulailah untuk memberanikan diri dan mencoba menyelesaikannya, dengan membuat daftar mana saja masalah yang bisa kita ubah dan mana yang tidak bisa kita ubah. Dengan begini, kita belajar menyadari bahwa tidak semua hal berada pada kendali kita. Tidak semua penyakit bisa disembuhkan, tidak semua hubungan bisa dilalui hanya dengan berpikir ”ah, ini hanya masalah waktu saja”. Dan tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan berpikir keras dalam semalam.

Selanjutnya, kita harus tahu bahwa cara pikir kita sudah benar. Artinya, kita sudah melihat masalah kita dengan teliti. Apakah yang kita pikirkan sudah benar? Apakah ada alternatif solusi yang lebih baik dari ini? Selain beberapa cara tadi, bisa juga kita berkonsultasi langsung dengan profesional. Pergi ke psikolog misalnya.

Ketika kita atau teman kita merasa depresi, putus asa, panik, atau benar benar down, it’s okay untuk meminta bantuan. Pastikan kita tahu permasalahan Iawan bicara kita sebelum kita mulai memberikan saran. Pastikan empati kita tersampaikan kepada mereka terlebih dahulu. Mencoba merasakan masalah orang Iain, bagaimana kita merasakan setiap suasana yang kita alami dengan pengalaman orang Iain.

Mulai sekarang, ayo pelan-pelan ubah kebiasaanmu menyampaikan ucapan positif yang toxic dengan mencoba menyampaikan ucapan yang penuh empati. Ucapan-ucapan, “Jangan menyerah !’’, “Kamu kurang bersyukur !’’ bisa kamu ganti dengan mengucap, ”Tak apamenyerah itu pun kadang baikTapi mari kita pikirkan, apa target yang memungkinkan untuk kamu capai sekarang,” atau “Wajar jika kita merasa kecewa dalam keadaan ini.” lni terdengar lebih baik bagi seseorang daripada kamu hanya sekedar menyampaikan ucapan penyemangat yang berlalu begitu saja. Orang lain, akan melihat bahwa kamu berusaha memahami dan merasakan berada di posisi mereka.

So, guys. Hal ini juga dimulai dari dirimu sendiri ya. Untuk tidak mensugestikan diri untuk tetap positif dan terlihat baik-baik saja. Dengan kamu begitu, kamu akan bisa terhindar untuk melontarkan ucapan-ucapan toxic positivity di lingkunganmu. Mulailah untuk menjadi pendengar yang baik. Kalau kamu lelah, beristirahatlah sejenak. Kalau kamu mau marah, marah aja. Kalau lagi sedih atau kecewa, kamu boleh kok menangis. Itu lebih baik buat kamu daripada berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dan mulai sekarang, tempatkan empati kamu sebelum kamu mencoba menasihati.

 

Biodata Penulis Artikel

Nama : Nadya Salsabila Modeong

TTL : Belang, 27 Oktober 2001

Usia : 18 tahun

Alamat tinggal : Ciputat, Tangerang Selatan

Riwayat pendidikan :

– SMP Negeri 1 Kotabunan

– MAN Model 1 Manado

 

Mahasiswi S1 Program studi psikologi, fakultas psikologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Sosial media

Instagram : @nadinee.sm

Twitter : @nadyamdg

 

(*Chimo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here